Rabu, 02 Desember 2015

Endless Night - Dari pengarang, untuk pembaca

Cerita ini hanyalah fiktif belaka, bila ada kesamaan nama, tempat, dan kejadian, diharapkan untuk tidak diambil hati atau merasa tersinggung karena ini hanya karangan dan imajinasi penulis saja. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca karangan penulis yang masih tidak sempurna ini. Bila ada masukan silahkan tinggalkan komentar. 

Sekian dan sekali lagi terima kasih. 

Gloria Yuniasari Koswanto
692012001

Endless Night - Bab Terakhir

Try to Solve This

“Ger, bangun ger! Jangan mati!” Tama menggoyang – goyang tubuhku mencoba membangunkanku dari pingsanku. “Aku belom mati kampret!!” Kami masih berada dalam rumah angker bersama dengan lelaki yang menolong kami. Kulihat langit di luar jendela sudah terang. Terdengar suara mobil dan motor dari arah luar. Dari apa yang terasa saat ini sepertinya kami sudah selamat! Bravo! “Kita selamat teman – teman! Kita selamat!” Ujar sang lelaki. Untuk pertama kalinya kami bisa melihat wajah si lelaki itu dengan jelas. Wajah itu adalah wajah pemilik blog! Dialah Kurniawan Santo yang asli! Sebelumnya kami tidak menyadarinya disebabkan penampilannya yang sudah sangat lusuh dan penerangan yang sangat kurang di dalam rumah. Lalu yang kami sadari lagi adalah, ingatan kami sudah kembali! Kami sudah ingat tujuan kami untuk mencari referensi skripsi, keluarga kami, dan aku sudah ingat pacarku yang cantik, namanya adalah Lina. Kontak di HP, chat Yellowberry dan sebagainya sudah kembali.
Langsung saja kami mengambil semua barang kami dan keluar ke halaman rumah. Ya, sekarang kami sudah bisa keluar rumah! Hore! Kami menikmati indahnya pemandangan ilalang yang sebenarnya nggak indah – indah amat. Masa bodo lah ya, menurut kami itu indah karena apa yang sudah kami lalui, kami pikir kami tidak akan bisa melihat keluar lagi. Mobil Tama terlihat masih terparkir manis didepan pagar rumah. Kami segera bergegas menuju mobil dan mengambil snack dan minuman karena yang terasa hanyalah lapar dan haus. Sambil menyantap, lelaki tadi yang minta dipanggil Santo saja berbicara pada kami, “Makasih ya, kalau tidak ada kalian mungkin saya sudah tamat didalam sana. Waktu pertama bertemu kalian, saya sudah kehilangan akal saya karena hilangnya ingatan dan berusaha terus lari dari si setan itu. Tapi kenapa kalian tidak mempedulikan peringatan yang saya tulis di blog sebelum saya hilang ingatan?” Aku dan Tama bertatap muka lalu menjawab pertanyaan Mas Santo. Kami jelaskan bahwa tulisan peringatannya di blog tidak ada, hanya ada post mengenai rumah angker saja. Awalnya dia tidak percaya, tapi setelah mengecek laptop dia akhirnya percaya sekaligus bingung.
“Temen – temen, aku pernah inget fenomena kayak gini di sebuah game yang aku mainin. Kayaknya kita tadi udah terseret ke dunia lain, dimana kalau kita terlalu lama disana maka kita akan kehilangan ingatan, kehilangan arah dan tujuan karena kita sudah mulai menyatu dengan dunia orang mati.” Kataku menurut pengetahuan yang aku punya. Kawan – kawan, ingatlah selalu bahwa banyak bermain game tidak membuatmu bodoh. Kemalasanlah yang membuatmu bodoh. Oke, kembali ke topik yang tadi. Jadi apa yang di post mas Santo sewaktu berada di dunia lain itu tadi tidak pernah ada di dunia kita, karena mungkin internetnya nggak nyampe sini kali ya. Hmm... “Berarti kita beruntung bisa menemukan sumber penyeret kita kedalam dunia lain dan berhasil memusnahkannya. Kalo ndak kemungkinan besar kita akan terjebak selamanya di sana atau dibunuh hantu itu.” tambah  Tama. Mas Santo menjawab “Yang lebih beruntung ya saya ini mas, bisa bertemu dengan kalian. Sekali lagi saya berterimakasih ya.”
Kami berbincang banyak dan menceritakan hidup kami yang tadinya sempat hilang dari ingatan kami. Mas Santo banyak bercerita tentang pengalaman yang menginspirasi kami sebagai petualang dan juga tentang keluarganya. Istrinya yang bernama Indri dan anaknya yang bernama Purnama Santi. Kamipun bercerita bagaimana kami bisa sampai membaca blognya dan tertarik untuk mendatangi rumah angker itu. Setelah berbincang cukup lama dan bertukar kontak, kami memutuskan untuk melaporkan apa yang kami lihat di rumah itu kepada polisi via telepon umum tanpa meninggalkan nama dan segera pulang ke alam masing – masing. Kami tidak mau meninggalkan identitas karena sudah malas mengurusi perkara rumah itu tadi. Biar pihak yang berwajib saja yang memecahkan kasus ini. “Mas Santo, mau ikut mobil ndak?” Tawar Tama pada Mas Santo. Mas Santo menolak karena tempat tinggalnya jauh dan tidak mau merepotkan. “Gapapa saya naek bis aja. Biasanya bis Sumber Bencana sering lewat di jalan besar di perempatan sana. Saya biasa naik angkutan umum kok.” Kamipun berpisah disitu. Sesampainya di kontrakan, Tama langsung saja beli bubur kacang ijo untuk dimakan sambil berendam air hangat. Somplak.
Tak terasa sudah berjalan 1 minggu setelah kejadian tak terlupakan itu. Kami akhirnya mengganti topik skripsi dan game buatan kami dari game horror menjadi adventure dengan mengambil pengalaman berpetualang Mas Santo. Dia juga sudah setuju untuk berbagi pengalaman dan referensi pada kami. Kehidupan kembali normal, kembali ke rutinitas. Siapa sangka justru inilah yang kami inginkan? Sesuatu yang membosankan tidak selamanya buruk. At least, itu karena kami sudah mengalami sesuatu yang jauh lebih buruk.

           Dan jangan tanyakan pada kami apa yang sebenarnya terjadi pada Mas Supri jadi – jadian itu atau apa yang sebenarnya terjadi di rumah angker jahanam itu. Atau mengapa si syaiton bisa mengarang tentang Gojek. Kami tidak pernah tau, dan tidak ingin tau. Apalagi kalau harus berhadapan lagi dengan kasus ini. Kami hanya bisa berargumen. Mungkin si hantu dibunuh? Atau terjebak di tembok waktu rumah dibangun? Biarlah semuanya tetap menjadi misteri. 

Endless Night - Bab 4

Try to Escape!

“Disini kalian rupanya! Aduh, saya sangat parno, saya pikir kalian hilang!” Ternyata Mas Supri! Kami sangat lega sekaligus penuh tanda tanya saat melihatnya. “Ayo kesini mas! Saya tadi ndak sengaja menemukan sesuatu di kamar mandi!” Tanpa ba bi bu kami semua segera berlari ke kamar mandi dan melihat apa yang ditulis di blog. Sebuah potongan tulang kaki menyembul dari dalam tembok. Bahkan ada bau yang sangat menyengat. Mungkin saja berasal dari mayat didalam tembok itu. “Ini orangnya pasti dikubur didalam tembok! Ayo kita buka aja mas!” Kata Mas Supri sambil mencoba memukuli tembok dengan wastafel yang jatuh dilantai. Tiba – tiba Tama menyela dan berkata, “Mas Supri. Jujur saja saya merasa ada yang janggal dengan kamu mas. Kami menemukan barang – barang ini di atas, foto – foto di dalamnya adalah wajah mas, tapi namanya adalah Kurniawan Santo.” Mas Supri langsung menjawab, “Ah itu memang punya saya! Oh nama saya Kurniawan Santo ya? Saya lupa, kan semua lupa. Ha ha ha.” Mas Supri mau mengambil ranselnya tapi Tama menjauhkannya dan melanjutkan kalimatnya, “ Bukan cuma itu. Saya inget mas waktu mas bilang nama istri mas adalah Indri. Bukannya harusnya mas udah ndak inget tuh? 6 hari yang lalu saja Kurniawan Santo ini sudah kehilangan banyak ingatan, yang logikanya harusnya saat ini sudah kehilangan semua ingatan nama dan lain – lain. Orang kami aja sudah ndak inget nama siapapun kecuali nama kami sendiri.” Aku nggak menyangka Tama sudah memikirkan sejauh itu. Mendengar argumen Tama, bulu kuduk ku langsung berdiri.
Mas Supri hanya terdiam sambil menunduk. Kami mulai mengambil langkah mundur perlahan. Ini jelas – jelas tidak beres. “Gagal lagi. Gagal lagi. Aku cuma pengen punya tubuh saya sendiri mas. Aku bosan meminjam wajah orang.” Tiba – tiba kulit Mas Supri seperti terkelupas pelan – pelan dari tangan, wajah, lalu seluruh tubuh. Semua rambutnya rontok dan dagingnya perlahan membusuk dengan bau yang menyengat. Kami sadari inilah sosok bayangan hitam yang kami temui tadi dengan wujud yang lebih jelas. Inilah hantu yang sebenarnya. Mas Supri adalah hantu yang sebenarnya! “Ger pintu kamar mandinya ndak bisa dibuka! Ger!!” Tanpa mempedulikan kami yang sedang mendobrak – dobrak pintu, hantu ini membuka tirai bath tub dan telihatlah pemandangan yang sangat mengerikan. Tumpukan mayat yang beberapa masih baru dan beberapa sudah membusuk. Inilah sumber bau menyengat yang sebenarnya. Dengan suara parau, hantu berkata, “Kalian gabung sama mereka saja ya? Kumpulan orang – orang yang mengabaikanku.”
Hantu ini mendekati kami. Aku mengambil wastafel yang jatuh tadi dan mencoba memukul hantu ini. Tapi tidak berhasil, tembus! Yang tidak adil adalah meskipun begitu, si hantu masih bisa memegang kami bahkan mencekik kami berdua. Dia mengeluarkan pisau berkarat dari tumpukan mayat di bath tub seraya berkata, “Saya penggal saja ya, lalu kepala kalian saya pajang supaya saya ingat dan bisa memakainya sebagai wajah saya.” Aku sadar bahwasanya aku dan Tama ini memang rupawan sehingga wajah kami mau dipakai, tapi what the fak Gery?? Ini bukan saatnya memikirkan itu! Dengan terengah dan terbatuk – batuk, Tama berusaha membuka pintu lagi namun tak berhasil. Mungkin inilah akhir dari kami. Tamat sudah riwayat kami. Terlintas dimataku memori kehidupan yang masih tersisa. Aku ingat bagaimana aku dan Tama bertemu sewaktu SMP. Dimana Tama memanggil aku “Hey” karena tidak tahu namaku. Dan persahabatan kami yang berjalan sampai kuliah tingkat akhir. Perlahan nafasku mulai habis, tinggal menunggu saja kapan si hantu mau memotong leherku.
BRAK! Bukan itu bukan suara leher yang terpotong. Kalau leher yang terpotong bunyinya pasti “crot”. Ternyata pintu kamar mandi didobrak dari depan dengan kursi dan yang melakukannya adalah orang lusuh yang keluar dari lemari kamar tadi. Dia langsung melemparkan serbuk kearah kami dan si hantu. Si hantu itu menjerit dengan suara yang mendengung di telinga lalu menghilang. Saat serbuk itu mengenai wajahku dan masuk ke mulutku, rasanya asin. Ini adalah garam. “Kalian tidak apa – apa?” kata lelaki itu. Aku menjawab, “Hampir mati tadi, tapi tidak apa – apa sekarang. Kamu kok bisa tahu kalau garam bisa mengusir hantu?” Dia berpikir sedikit lalu menjawab, “Entah aku lupa apa judulnya, tapi aku pernah lihat seri di televisi kabel tentang 2 bersaudara perempuan pengusir setan yang menangkal setan dengan garam.” Aku masih ingat! Itu Seri Supranaturale! Aku langsung menjawab dengan semangat, “Itu Supranaturale! Kamu juga lihat toh?! Saya suka banget itu! Apalagi si Deanna, kakak perempuannya. Cantik  dan keren banget ya!” Obrolan fans pun muncul diantara aku dan lelaki lusuh ini. Dia juga menjawab dengan semangat dan kamipun menjadi dekat dalam sekejap mata. “Uh.. Teman – teman. Bagaimana kalau kita mencari jalan keluar dari sini mumpung hantunya sudah lenyap.” Lelaki itu menjawab, “Tidak! Dia tidak lenyap. Garam itu fungsinya cuma repellent.” Aku mengiyakan lalu menambahkan, “Iya Tam. Itu kayak misalnya LAUTAN, lotion anti nyamuk itu lho. Dia ndak mbunuh nyamuk kayak obat nyamuk semprot, tapi cuma bikin nyamuk menjauh sementara. Sewaktu – waktu syaiton tadi masih bisa balik!”
Kami harus berpikir cepat, kami harus menemukan cara untuk melenyapkan syaiton itu. Aku mendapat ide, “Bagaimana kalau kita lakuin cara memusnahkan setan kayak yang ada di Supranaturale. Garam saja berhasil untuk menangkal setan seperti di seri, mungkin saja hal yang lain juga!” Kamipun langsung menyusun strategi. Kalau sesuai dengan yang di seri, cara melenyapkan setan adalah membakar semua yang tersisa dari tubuhnya dengan minyak tanah dan garam. ”Inget yang dikatain si setan tadi Ger? Pas dia meminta kita mengeluarkan mayat dalam tembok? Dia bilang dia cuma pengen punya tubuh dia sendiri. Berarti mayat dalam tembok itu adalah dia!” Lah, tumben si Tama inget macem – macem nih. Biasanya dia selalu lupaan. Kami akhirnya membagi tugas. Aku dan Tama memecahkan tembok untuk mengeluarkan mayat itu dan lelaki itu mencari garam lagi di dapur dan juga minyak tanah, karena dialah yang lebih tau banyak mengenai rumah ini. Segera kami mengerjakan rencana kami.
Mayat yang kami pahat keluar dari tembok sudah 75% terlihat. “Sedikit lagi, Tam!” Dengan bersemangat sekaligus panik kami terus memahat dan memahat sampai kami mendengar suara teriakan si lelaki tadi dari arah dapur. “Tam kamu lanjutin dulu sebentar aku mau lihat itu kenapa si abang.” Aku segera berlari menuju dapur. Si hantu sudah kembali dan sedang mengejar – ngejar lelaki itu! “Bro! Ini minyak sama garemnya! Koreknya ada di dalam ransel saya di bagian sebelah kiri!” Lalu kami main lempar tangkap. “Sudah langsung bakar aja bro! Saya lari dulu! Salam Super!” Dia langsung berlari dan masih dikejar hantu tadi. Larinya kenceng juga. Pasti tontonannya Silver Ways. Itu lho acara motivasi yang pembicaranya Maria Tegar. Langsung saja aku kembali ke kamar mandi, dan ternyata Tama sudah selesai mengeluarkan mayat itu. Langsung kusiram dengan minyak, taburi dengan garam, dan sulut dengan api. Berasa barbekyuan nih.

Seluruh tubuh dari mayat ini sudah terbakar. Tiba – tiba saja terjadi gempa yang besar dan membuat kami bertambah panik. “Ayo Tam! Keluar dari sini! Belum sempat berlari jauh kami terjatuh karena begitu kuatnya gempa yang terjadi. Kulihat Tama terguling dan menabrak tembok, dan akhirnya tidak sadarkan diri. “ Tam! Kamu pingsan ya? Woy!!” Sungguh pertanyaan yang bodoh. Tapi tolong dimaklumi lah ya. Ini sedang situasi sulit nan rumit. Sang lelaki tiba – tiba muncul, berlari kearahku. Lalu tersandung kakiku dan jatuh pingsan juga. Naas lah ya. Di belakangnya hantu itu terbakar layaknya tubuhnya yang telah kami bakar. Berhasil seperti di seri Supranaturale. Lalu hal terakhir yang kuingat adalah ada benda yang terantuk ke kepalaku dan semua berubah menjadi gelap. 

Endless Night - Bab 3

Try to Know “It”

“Ugh, kepalaku sakit!” Aku terbangun dengan tubuh sangat tidak nyaman, rasanya seperti aku baru saja terbangun dari tidur yang sangat panjang. Aku melihat sekeliling, syukurlah sepertinya mahluk hitam itu sudah pergi. Tapi aku masih berada di rumah ini. Kulihat langit diluar rumah sudah gelap. Kurasa aku sudah pingsan lama, mungkin 3 jam? 5 jam? Penasaran, kubuka smartphoneku dan kulihat jam. Sial, sudah jam 00.00. Pantas saja keadaan disini sudah sangat mencekam. Disebelahku terbaring tubuh seseorang yang ternyata adalah Tama. “Tam, woi. Bangun Tam!” sambil ku goyang – goyangkan pundak Tama. Matanya terbuka perlahan sambil menjawab, “Hah? Hah? Iya? Ndak kok aku tadi habis makan pecel. Udah kenyang. Tapi boleh deh tambah es cendol.” Lho, lho, lho nglindur bocah kampret ini. Kubangunkan Tama sekali lagi  dengan lebih bersemangat. Kali ini dia terbangun, lalu kami berbingung- bingung sebentar sebelum ia mengatakan, “ Ayo Ger keluar lagi dari tempat ini. Mungkin udah normal.” Akupun segera membuka pintu depan rumah yang berada tepat didepan kami.
Syukurlah. Pintu sudah terbuka dan yang kami lihatpun sangat melegakan kami, yaitu halaman rumah itu. Kami sudah tidak kembali ke dalam rumah lagi. Diluar langit sangat berkabut dan udaranya dingin. Mungkin ada hujan selama kami pingsan. Dengan lega sekaligus ingin cepet – cepat pulang kami berlari kearah gerbang depan, membuka gerbang depan dan keluar. Selamat! Kami selamat! Fiuh… “Aku habis ini pokoke mau mandi di bak pake aer anget sambil makan bubur kacang ijo dan minum Ponari Sweet.” Kata Tama sembari berlari terengah – engah dan mengeluarkan kunci mobil.
Tapi disinilah masalah baru muncul lagi. Dimana mobil kami? “Aku yakin tadi disini kok Ger! Udah aku kunci juga! Masak dicolong orang sih? Ah gak lucu nih!!” Aku mendadak ikut panik sambil berkeliling untuk mencari mobil Tama. Mungkin kalau aku tanya penduduk sekitar mereka akan tau. Toh rumah – rumah penduduk tidak jauh dari rumah ini. Sangat dekat malah. Aku memasuki sebuah rumah yang pintu gerbangnya terbuka dan mulai mengetuk pintu. “Heh Ger apa mati lampu ya? Apa penduduk dah pada tidur kali. Gelap banget soalnya.” Lalu kami pun menyadari keganjilan lagi disini. Keadaan di tempat ini sangat sepi. Terlalu sepi. Penerangan yang masih adapun hanya berasal dari lampu jalanan yang berkedip –kedip sesekali. “Tam, mungkin gak sih jam segini semua orang udah pada tidur dan mematikan semua lampu?” “Nggak deh Ger. Kok mulai horor lagi sih.” Kamipun mundur perlahan. Ini sangat tidak beres.
Sadar bahwa kami tidak mungkin minta bantuan orang disekitar sini, kami memutuskan untuk menghubungi teman atau keluarga atau siapa sajalah kenalan kami yang bisa dimintai bantuan! Teman… Keluarga.. Kenalan… Huh?? Siapa ya?? Aku tidak bisa mengingat nama siapapun selain namaku dan Tama. Apa ini? Aku ingat aku punya keluarga, aku ingat aku pnya teman kuliah, aku bahkan ingat aku punya kekasih yang cantik! Tapi aku tidak mengingat apapun selain itu! “Tam aku kok ndak inget sapa – sapa ya?” Ternyata Tama mengalami hal yang sama. Harapan terkahir, cek laptop! Cek HP! Semua paling tidak ada petunjuk! Tapi Nihil. Kontak di HP kosong, chat Yellowberry, Facepalm, semua tidak ada. Seperti berasa punya gadget baru saja. “Tam, inget nama pacarku ndak?”, “Ndak Ger. Lupa. Lha kamu inget nama pacarku ndak?” Kami terdiam, menambah suasana keheningan yang mencekam. “Koe ndak punya pacar bos.” Jawabku. Tama hanya menjawab, “oh.”
Selanjutnya kami mencoba berkeliling, mungkin ada orang yang bisa dimintai tolong, mungkin ada kantor polisi atau warung? Karena kebetulan juga kami sedang lapar. Tapi tidak ada siapapun. Bahkan tidak ada tanda kehidupan sedikitpun. Tempat ini seperti kota mati. Masak baru ditinggal beberapa jam tempat ini sudah jadi seperti ini? Tadi siang saja masih sangat normal. Apa yang sebenarnya terjadi pada tempat ini? Bukan, mungkin pertanyaan yang pas adalah, apa yang sebenarnya terjadi dengan kami? Bahkan saat berusaha untuk lari kemanapun, ujung dari tujuan kami selalu sama, rumah angker itu. Lewat 3 jam.. 5 jam.. entahlah, mungkin sudah setengah hari lebih kami berjalan, bahkan langit tak bertambah terang.
“Ger, kamu lihat yang ada diseberang jalan?” Aku memicingkan mataku untuk melihat apa yang Ian maksud. Seorang lelaki berdiri di ujung jalan, menatap kami dan berjalan menuju ke arah kami. Awalnya berasa sangat menakutkan, namun kami lihat lagi tidak ada yang ganjil dari orang ini. Jadi kami menunggu dan melihat apa yang akan terjadi. “Kalian juga terjebak di tempat ini ya?” tanyanya dengan ramah. “Iya mas. Kami terjebak disini sudah beberapa jam. Mas tahu apa yang sedang terjadi disini?” Orang itu menatap dengan pandangan lega telah bertemu kami sekaligus tidak puas dengan jawaban kami. “Saya juga nggak tau mas. Saya sudah terjebak disini beberapa hari!” Ternyata dia lebih parah. “Gini mas, gimana kalau mas gabung aja sama kita, kita cari cara keluar dari sini bersama – sama.” Usul Tama pada orang tadi. “Ide bagus mas! Makasih banyak ya mas – mas sekalian. Nama saya Supri.” Kami pun memperkenalkan diri kami padanya dan memulai ekspedisi kami untuk keluar dari tempat mencekam ini.
Dalam perjalanan kami, Supri menceritakan kisahnya bagaimana dia sampai terjebak disini. “Saya itu tukang ojek mas. Mas tau Gojek kan? Ojek online yang lagi terkenal? Yah, itu saya kerja disitu. Saya dapat pesanan ojek ke alamat ini. Saya sebenernya sadar mas, kalau tempat ini kosong. Tapi ya saya coba masuk aja, siapa tau memang ada yang pesan didalam, daripada saya ndak dapat apa – apa terus dimarahi istri saya Indri. Malah didalam rumah saya dikejar – kejar demit mas. Terus pingsan. Edan mas, saya ketakutan banget. Akhirnya saya berakhir disini.” Kasihan juga sih ya, sudah dia terjebak sendirian, masih rugi juga karena tidak dapat klien. Tiba – tiba si Mas Supri ini mendapatkan ide cemerlang, “Gini mas, asal dari masalah ini kan adalah rumah angker itu. Gimana kalau kita pergi kesana lagi, siapa tau kita bisa pulang, ya ndak?” Awalnya kami ragu, namun apa salahnya dicoba? Lagipula kami sudah berputar – putar diluar rumah dan tidak menemukan apapun. “Yawes lah Ger, kita coba masuk lagi aja.” Sepakat, kami kembali ke rumah jahanam itu lagi.
Isi rumah ini masih sama, bahkan terasa lebih mencekam. Kami memutuskan untuk pergi bersama ke seluruh bagian rumah, karena kalau di film horor biasanya kita akan diincar hantunya kalau sendirian. Kami tidak mau mengambil resiko itu. Kami mencari petunjuk ke seluruh tempat, kamar mandi tempat si syaiton itu keluar. Nihil. Ke dapur, hanya menemukan perkakas kotor yang sudah sangat lama tidak dicuci. Kecoa dan laba – laba dimana – mana. Daripada Tama mual – mual kami segera pindah lokasi. Kami berputar – putar sangat lama sampai akhirnya kami masuk ke sebuah kamar tidur besar di belakang rumah, dengan double-bed yang mewah, meja rias yang cerminnya sudah pecah, dan sebuah lemari besar yang mengundang tanya. Apakah isi dari lemari ini? “Mau coba cek Tam?” tanyaku pada Tama. “Boleh, tapi kamu lho ya yang buka pintu lemarinya.” Hedeuh. Kuraih ganggang pintu lemari dan kubuka lemari besar itu. Berjejer sangat banyak baju – baju. “Ger Ger Ger. Mundur Ger. Aku liat ada sesuatu yang goyang – goyang didalam baju – baju itu.” Benar kata Tama. Tiba – tiba saja sesosok pria yang sangat lusuh dan berantakan memelototi kami. “KELUAR!! PERGI DARI SINI!! DASAR BODOH KALIAN SEMUA!!” dan langsung berlari membabi buta kearah kami. Sontak, kami kaget dan langsung berlari keluar, menutup pintu dan mengganjalnya dari luar. Kami langsung berlari ke arah dapur dan bersembunyi disana.
“Itu pasti hantunya Ger!! Ndak salah lagi!! Heh, mana coba Mas Supri?? Jangan – jangan ketinggalan lagi! Waduh gawat!” Saking paniknya ternyata kami sudah melupakan Mas Supri. Sadar kami adalah warga negara Indonesia yang baik dan mahasiswa yang bersahaja, kami memutuskan untuk segera kembali dan menyelamatkan Mas Supri. Saat kami sampai di depan kamar, pintu kamar sudah terbuka, yang artinya hantu tadi pasti sudah keluar. Dan tidak ada jejak Mas Supri dimanapun. “Ya Tuhan, Tam. Jangan – jangan Mas Supri dibawa syaiton tadi? Haduh, sial.” Aku berpikir, berpikir, dan berpikir. Disatu sisi aku ingin segera kabur saja, namun meninggalkan Mas Supri adalah pilihan yang tidak adil.
Dalam keheningan panjang kami untuk memutuskan tindakan, Tama menemukan sebuah tas ransel tergeletak ditempat hantu laki – laki tadi keluar. Ransel yang penuh terisi barang ini dan itu, semua barang yang kau perlu tersedia hanya untukmu. Hanya saja warnanya tidak ungu, dan tidak ada mata serta tidak bisa menyanyi. Oke, cukup basa – basi nya. Ransel? Kupikir lagi, semua barang di sini adalah barang kuno, namun ransel ini jelas model baru. Tidak mungkin ini berasal dari era yang sama, bukan? “Coba dicek aja Ger, siapa tahu ada sesuatu.” Benar saja, isinya adalah berbagai macam barang seperti agenda, botol minum, snack, serta barang kekinian seperti laptop, handphone, iPed, dll. Kucoba membuka laptopnya, namun terkunci. Baterainya masih ada meskipun tinggal sedikit. “Pasti belum lama ditinggalkan ini.” Tama yang mengecek HP pun menyadari sebuah kenyataan bahwa foto yang terpajang di layar HP adalah Mas Supri dengan seorang anak. Anaknya sih tidak tampan dan juga pemberani seperti aku. Yaiyalah, anak itu cewek.
“Mungkin ini punyanya Mas Supri kali Tam. Kita bawa aja kalo – kalo nanti ketemu mas Supri.” Tama masih berusaha membuka HP itu, sepertinya dia sangat penasaran. Begitu pula denganku. Tidak terima, aku berusaha membuka laptop itu lagi sambil membaca – baca agenda yang ada di ransel itu. Rata – rata semuanya adalah destinasi ke sebuah tempat beserta tanggal, maklum mungkin karena dia tukang gojek. Di bagian belakang agenda terdapat sebuah nama, Purnama Santi. Hmm.. Nama siapakah ini? Mungkin orang yang disayang. Tunggu dulu. Tiba – tiba aku memikirkan sebuah ide brilian. Menurut survey, rata – rata orang menggunakan nama orang kesayangan sebagai password. Langsung saja aku membuka laptop yang diduga – duga milik Mas Supri tadi. Kucoba kombinasi pertama “Purnama Santi”, salah. “purnamasanti”, masih salah juga. Tanpa menyerah, tak kenal lelah, aku mencoba kombinasi “PSanti”. Dan.. akhirnya terbuka juga! Yes! Aku emang bukan cuma ganteng tapi juga jenius. “Tam kebuka nih!”
Apa yang kami lihat setelah itu jauh lebih mengejutkan lagi. “Lho Ger, ini bukannya blog yang kita buka buat nyari rumah ini toh?” Laptop ini sudah jelas dipakai oleh pemilik akun blog untuk menulis blognya! Tapi nama blognya adalah Kurniawan Santo bukan? Penasaran, aku membaca lebih dalam, lebih jauh. Benar! Laptop ini adalah milik Kurniawan Santo! Tapi kenapa wajah yang muncul adalah wajah Mas Supri? Tunggu dulu, tunggu dulu. Kami gagal paham. “Lihat deh postnya, Tam. Yang kita lihat post terakhir adalah tentang rumah angker kan dengan tanggal 1 minggu yang lalu kan? Tanggal 10? Ini ada post lagi lho ternyata! 1 hari setelah itu! Coba baca deh.”

“11 November 2015, JANGAN PERNAH DATANG KEMARI!”
“Bagi semua orang yang membaca post terakhir saya mengenai rumah angker di Mandiratu, tolong ingatlah satu hal. Jangan pernah mencoba datang! Saya peringatkan, berpikir untuk datangpun jangan! Saya masih berada di sini sampai saat ini, bukan karena tidak mau pergi, tapi karena tidak bisa! Saya terjebak, bahkan keluarpun tidak dapat pergi! Saya yakin ada sesuatu yang aneh didalam sini. Saya bahkan mulai lupa akan kehidupan saya, mulai lupa dengan orang – orang terdekat saya. Satu persatu ingatan mengenai nama dan kenangan hilang! Saya tidak tahu sampai kapan bisa bertahan, mungkin ini post terakhir saya. Bagi keluarga saya atau siapapun yang membaca post ini, saya meminta tolong laporkan polisi atas hilangnya saya dan mengenai rumah ini. Jelas sekali sesuatu yang naas telah terjadi di rumah ini! Saya bahkan menemukan potongan tulang kaki di tembok bagian bawah kamar mandi! Seperti seseorang telah disemen dalam tembok! TOLONG! JANGAN ABAIKAN PESAN INI!”


Oh shit! Ini jelas – jelas peringatan yang sangat keras! Tapi kami berani bersumpah, post ini tidak ada di blog saat kami membacanya! Jelas sekali Kurniawan Santo atau Mas Supri ini mengalami hal yang sama dengan yang kami alami. “Tam coba inget pas kita masuk ke dalam rumah. Shit! Aku harusnya sadar! Banyak jejak kaki menuju kedalam rumah, tapi tidak ada satupun yang mengarah keluar dari pintu!” Intinya semua yang masuk tidak pernah kembali. Ini mungkinlah yang akan terjadi pada kami dan Mas Supri. Atau Kurniawan Santo. Atau siapalah dia! Semua ini membuat kepalaku hampir pecah! “Ger, aku merinding. Sumpah. Sori yah, harusnya aku ndak ngajak kamu ketempat ini! Kita sebenernya ngapain sih di sini?” Kami terdiam. Sial sungguh sial! Kami bahkan sudah lupa tujuan kami kesini! Memori kehidupan sudah mulai menghilang sama seperti si pemilik blog! Saat kami mulai kehilangan akal, sebuah suara memanggil kami, “Disini kalian rupanya!”

Endless Night - Bab 2

Try to Know This Place

Lusa pun datang seperti sekejap mata. Mengapa? Karena akhirnya aku tidak mengerjakan art game nya, dan Tama kelasnya libur. Kami bermain game online sampai pagi. Seolah – olah waktu 24 jam sehari itu selalu kurang. Tapi ya sudahlah, daripada menyesalinya lebih baik aku mempersiapkan bawaan yang akan kubawa perjalanan keluar kota. Snack, air minum, laptop, kamera untuk dokumentasi, baju ganti untuk jaga – jaga, dan sabun. Iya, sabun. Jangan salah paham, hanya saja aku ini sering mendadak sakit perut dimanapun kapanpun. Kalau kata Tama kayak ayam. Jadi sabun itu ya buat cebok, bukan yang “lain”.
“Dah siap to Ger? Yuk berangkat.” Kata Tama sambil melewati kamarku. Akupun bergegas mematikan segala benda yang berkaitan dengan listrik, mengunci pintu dan meluncur kedalam mobil. Literally meluncur, sampai – sampai Tama selalu marah – marah saat aku melakukannya. Maklum, hiperaktif. “Jadi langsung ke TKP nih Ger? Ndak nunggu malem?” Memang bocah satu ini koplak pertanyaannya. “Ya kan aku mau cari foto Tam, bukan cari demit.”
Dalam perjalanan sambil mencari lokasinya, aku membaca – baca kembali blog dari orang yang menulis artikel tentang rumah angker yang akan kami datangi. Namanya Kurniawan Santo. Dia sangat sering berpetualang mencari – cari tempat yang unik. Tempat yang indah, tempat yang sangat terpencil, tempat yang berbahaya hingga tempat angker. Artikelnya cukup menarik dan ditulis dengan bahasa yang meyenangkan untuk dibaca. Tak heran banyak pengikut blognya. Artikel terakhir yang ia tulis adalah artikel rumah angker itu, sejak satu minggu yang lalu. Hmm.. aku tidak sabar menunggu update selanjutnya dari orang ini.
“Udah sampe nih Ger, bangun.” Tama membangunkan ku dari tidur lelapku. Leherku sakit karena salah posisi. “Ini dah berapa jam sih kita perjalanan Tam?”, “Dah 3 jam bruh. Capek aku.” Aku melihat rumah angker yang diceritakan di blog. Tidak seperti yang kukira, rumah ini bukan rumah terpencil didalam hutan atau rumah yang berada di desa sepi yang ditinggalkan. Rasanya keadaan di sekitar rumah ini normal saja. Rumah ini pun aku pikir termasuk mungkin besar dan bagus bila dirawat dan ditinggali. Halaman rumahnya sangat besar, penuh dengan rumput yang panjang dan ilalang dimana – mana. Tanpa nomor rumah, tanpa tulisan apapun, misal dijual atau dikontrakan. Rasanya aku tidak percaya bila rumah ini tidak ada yang punya.
Kamipun masuk kedalam halaman rumah itu, angin dingin menghembus membuat bulu kuduk berdiri. Santai dulu, ini memang musim hujan. Wajar kalau ada angin dingin seperti ini. Aku mulai mengambil foto – foto dari halaman rumah angker ini. Hasil – hasil fotonya sangat bagus, entah kenapa. Padahal aku sendiri bukan ahli dalam bidang fotografi. “Tam, liat nih, fotonya bagus – bagus lho hasilnya.. Tam.. Lho, Tam? Woy??” Tama menghilang entah kemana. Apa mungkin dia sudah masuk ke dalam rumah? Ah, pintunya masih tertutup. Dimana dia? “Hai.” Sapa seorang dari belakang. Aku melonjak kaget. Ternyata Tama dengan muka datarnya datang membawa kunci mobil. “Kunci mobilku ketinggalan hehe..” “Kampret lah Tam, ngaget – ngagetin.”
Menuju ke teras rumah, kami melihat sekitar sambil melihat – lihat adakah yang menarik untuk difoto dan dijadikan subjek atau objek game kami. “Oy, sini deh Ger. Liaten. Banyak jejak kaki dideket pintu masuk nih.” Aku menyimpulkan berarti banyak orang yang tertarik mengunjungi tempat ini. Mungkin pemerintah seharusnya mengaktifkan tempat ini untuk tujuan pariwisata, who knows? Terlihat sangat banyak jejak kaki menuju kedalam rumah, beberapa dari jejak kaki terlihat masih baru. Mungkin salah satunya adalah si Kurniawan Santo.
Benar dugaanku. Dari luar bagus, dari dalam juga bagus. Terlihat interior yang tertata sangat rapi dan enak dilihat. Perabotan pun sangat lengkap. Meja, kursi, lemari, dsb. Namun ya namanya saja rumah yang ditinggalkan, sangat berdebu dan kotor dimana – mana. “Sayang banget nggak sih, Tam? Rumah segede ini dianggurin begitu aja.” “Iya sih. Mesti ada penjelasannya sih.” Sama halnya dengan di taman, foto yang dihasilkan dalam rumahpun sangat bagus. Tidak heran Kurniawan Santo memasukan tempat ini kedalam blognya.
Setelah berjalan – jalan di dalam rumah kami pun segera beranjak untuk segera pulang karena jam sudah mulai menunjukan pukul 16.00. “Ayo Ger, nanti kalo kelamaan ndak enak jalan pulangnya gelap.” Akupun mengiyakan ajakan Tama. Sesaat sebelum meninggalkan tempat itu aku mendengar suara seperti kayu yang diinjak. DRAP. “Kamu denger suara ndak Tam?” Aku menengok kebelakang, kulihat di dekat tangga, di dekat meja makan, di pintu kamar mandi, semua tempat. Tidak ada apa – apa. Aku hanya menaikan pundak dan membuka pintu depan rumah untuk segera keluar rumah.
Pintu terbuka, aku dan Tama beranjak keluar. Beberapa saat kami terdiam. Bukan, bukan karena kunci mobil Tama ketinggalan, atau Tama minum dari botol air yang salah. Namun karena pemandangan yang kami lihat adalah sama persis dengan saat kami datang. Bukan, bukan tamannya yang sama persis tapi, dalam rumahnya yang sama persis. Nggak logis kan? Kami baru saja keluar dari rumah tapi malah masuk lagi kedalam rumah. “Kita berhalusinasi nggak sih Ger? Kamu ndak masukin ciu toh kedalam sari kacang ijoku?” Kata Tama sambil mencium bau mulutnya sendiri. “Endak Tam, sumpah. Aku ya bingung ini.” Ini kan mulai horor ini ya. Dan apa yang horor lagi? Saat aku mengecek foto – foto dalam rumah yang ada di kamera… Lenyap! Hilang semua gambar yang sudah aku ambil! “Heh Tam, ini kok ilang semua foto – foto ku??” “Ah masak? Error kali Ger memory cardmu? Apa yang tolol lagi ternyata lupa buka lens cap.” Aku bersumpah aku nggak setolol itu. Akhirnya daripada membawa pulang tanpa hasil, aku memotret kembali dengan cepat foto – foto yang hilang tadi.
“Udah Ger? Ayok Ger cepet keluar, perasaanku udah mulai ndak enak ini.” Sangat setuju. Kamipun bergegas ke pintu depan rumah untuk keluar. DRAP. Suara yang sama, volume yang sama terdengar dari belakang kami lagi. Aku sangat penasaran pada suara itu. Akupun membalikan badanku lagi, sama seperti kejadian yang tadi. Dekat tangga tidak ada apapun, di dekat meja makan juga, dan kamar mandi… Kali ini tidak nihil. Ada sesosok hitam seperti bayangan orang gundul  mengintip kami dari balik pintu kamar mandi. Kami terdiam, tak berdaya melakukan apapun. Bulu kuduk menjadi liar seolah – olah mau melepaskan diri dari kulit. Semakin lama dipandang, semakin sosok ini menyeringai kearah kami. “AYO AYO GER CEPET KELUAR!” Kami secepat kilat membuka pintu dan membantingnya dibelakang kami.

“Oh shit!” Jerit Tama. Kejadian seperti tadi terluang kembali. Kami masih berada didalam rumah! Seolah kami baru saja datang dari luar rumah. Untuk meyakinkan apakah kejadian ini sama atau tidak, aku mengecek ke galery foto di kameraku. Oh shit, oh shit, oh shit!! Hilang! Semuanya hilang lagi, kecuali sebuah foto. Yang lebih horornya lagi, bukan aku ataupun Tama yang mengambilnya! Sebuah foto yang memperlihatkan kami berdua sedang berjalan menuju pintu depan rumah. “Ger, ini bener – bener udah ndak normal Ger.” “Iya, iya ngerti! Ayo udah lah ndak usah foto – foto lagi kita keluar aja langsung!” Sialnya sekarang pintu depan tertutup rapat tak bisa dibuka, seperti memang pintu ini hanya dekorasi saja. DRAP. Suara itu lagi. Lagi! Aku dan Tama hanya terdiam saja. Tak ingin menengok. DRAP. Oh God. DRAP. DRAP. DRAP. Mengundang kami untuk menengok. Saat kami menengok, tepat didepan wajah kami sosok hitam menyeringai itu. Dia membuka mulutnya, sangat lebar seolah mau menelan kami.

Endless Night - Bab 1

Try to Know Us.

“TULALIT TULALIIIITTT…. TULALIT TULALIIIITTT…. PIP”
                Seseorang mengubah alarmku agar berbunyi jam 4 pagi. Sial.
            Dan itulah kisah pagiku. Ingin rasanya menutup mata kembali, tapi udara panas yang menyengat akibat panjangnya musim kemarau membuatku berkeringat dan tidak nyaman. Akhirnya kuputuskan untuk mandi, lalu mengerjakan tugas akhir seorang mahasiswa ganteng, yaitu skripsi. Kubuka laptopku yang cantik sambil menyeduh secangkir kopi hitam untuk booster.
“Oh men, hati ini sudah berniat mengerjakan, namun fisik ini berkata tidak,” kataku pada diriku sendiri. Diriku ini ingin segera lulus saja dari perkuliahan jahanam ini. Buatku, kuliah, sekolah, dan sebagainya adalah tempat yang sangat tidak menyenangkan. Kenapa? Pikirkan saja, kalau bekerja nanti, kita mengerjakan sesuatu lalu setelah itu mendapat bayaran alias gaji. Lha kuliah? Kita yang kerja, kita juga yang bayar. Enaknya dimana coba?  Kata orang nikmati saja kuliah, bersama teman – teman, asyik dan seru – seruan, blah blah blah… Aku bukan orang yang tertarik dengan hal semacam itu. Kalau disuruh pergi pesta atau pergi jalan – jalan bersama rombongan teman kampus, aku memilih untuk tidak. Bukannya tidak suka pergi berpetualang atau apa, tapi aku merasa kurang nyaman berada disekitar orang – orang yang kurang aku kenal. Jadi aku tidak pernah merasa kehilangan saat lulus dari sekolah dulu.
Hei, hei, jangan judge aku dulu. Bukan berarti aku tidak menghargai sebuah hubungan pertemanan. Seperti yang aku sampaikan tadi, aku tidak suka keramaian. Sama halnya dengan pertemanan. Prinsipku adalah, semakin banyak orang yang tau rahasiamu, semakin banyak masalahmu. Ya gitu udah.
Keep your circle small, and your beer cold. Wedeuh, kece banget  mahasiswa ganteng ini.
“Hoi.“Terdengar suara dari luar pintu kamarku yang terbuka.
Keindahan pagi hari ini tak lengkap tanpa sapaan singkat dari si muka datar, teman kos dan sahabat terbaikku, Tama. “Ger, lagi apa koe? Udah selesai desain skripsine? Biar bisa tak kerjain dikit – dikit coding e.” Jadi kami sedang membuat topik skripsi bersama karena diperbolehkan kampus, asal beda progdi. Beruntung Tama berasal dari Prodgi Teknologi Informasi dan aku dari Desain Komunikasi Visual. Lengkap sudah formasi untuk membuat aplikasi game kecil – kecilan. Tidak usah yang besar – besar, yang penting menarik dan skripsi cepat kelar. Kami orangnya tidak mau muluk – muluk.
“Iyo, ini ya baru tak garap. Cuma referensine masih kurang kayake.” Kami sudah memutuskan untuk membuat game horror. Namun sebagai game designer dan pembuat artwork game, aku merasa sangat sulit menggambarkan kengerian suatu tempat tanpa referensi yang cukup. Misal saja, setting tempat kami adalah rumah tua bekas pembunuhan yang sudah lama ditinggalkan. Misal lho ya. Terus aku tambahkan cipratan darah merah di backgroundnya. Aneh kan, sudah lama ditinggal, tapi kok darahnya masih segar? Lalu aku ganti jadi hitam, malah jadi cipratan oli. Diganti coklat, kok kayak lumpur?? Itu baru kegalauan background. Belum lagi desain karakter, desain cerita, desain Graphic User Interface, dll, dsb. Sesulit itulah. Dan orang – orang diluar sana hanya cas cis cus aja berkata, “Ah, DKV kan gampang, kerjanya cuma nggambar – nggambar aja!” Eat my ass lah.
Tama dan aku pun berpikir bersama didalam kamarku. Tama tampak berpikir keras sambil menyeruput secangkir kopi. “ Tam, itu kopiku. Bikin dewe sana lah.” Tama berhenti menyeruput kopi dan memandangku penuh makna. Aku terdiam, dia terdiam, seolah – olah jam di dinding berhenti berputar. Kemudian, Tama meletakan cangkir kopiku sambil berkata, “Oh iyo, aku lupa, Ger. Sori – sori.” Somplak. “Ya wis Ger, gimana kalo abis ini kita cari makan pagi dulu sambil keliling cari – cari referensi, tak traktir wes.” Aku langsung mengiyakan ajakan Tama. Teman macam apa yang menolak ditraktir temannya? Ehem, jujur saja saat ini ekonomiku sedang terpojok oleh krisis ekonomi, jadi ya traktiran adalah sebuah surga dunia. “Yo kamu mandio dulu, Tam.”
Segera setelah Tama selesai mandi, kami beranjak masuk kedalam mobilnya Tama dan pergi meninggalkan kontrakan kami untuk mencari kitab suci, maksudku makan. Tama pun memilih sebuah restoran makanan Cina kesukaan kami yaitu restoran Ta Man. Bubur disini enak lho. Belum lagi cumi 3 rasanya, dahsyat. Tapi kalau aku sendirian, aku tidak akan makan di restoran ini. Makan berdua saja bisa habis sampai 150 ribu rupiah. Buat Tama itu sudah biasa, lah buat aku? Jatah makan seminggu.
Setelah selesai memesan makanan, sambil menunggu makanan tiba, Tama mengeluarkan Smartphonenya sambil menunjukan sebuah artikel padaku. “Ini lho Ger, rumah yang ada di kota Mandiratu ini kayaknya bisa kita jadiin referensi art game kita. Aku lihat serem banget, bikin yang liat aja deg – degan dan nggak nyaman” Saat kulihat – lihat sendiri, memang benar kata – katanya Tama. Rumah yang kulihat di artikel itu berasa sangat lembab, suram dan juga membuat was – was. Padahal aku dan Tama jelas bukan orang yang punya indra keenam, sama sekali tidak. Lantai kayunya yang sudah pecah – pecah dan berlubang, entah apa yang ada dibawahnya. Tembok berlumut dengan noda yang entah apakah itu. Air bocor dari genteng? Lumpur? Atau… Darah?
“Iyo yah, serem nih. Tapi apa gak apa – apa nih, kalo kita kesana terus masuk dan lihat – lihat gitu? Bukan masalah takut hantu atau apa lho ya. Tapi apa gak bermasalah, misal dimarahin yang punya, atau ditutup pemerintah gitu?” Sambil membaca lagi Tama menjawab, “Ah, enggak kok. Orang yang nulis artikel ini aja masuk sendiri , disini ditulisan artikelnya bener – bener rumah yang ditinggalin lama. Gak keurus. Pie, mau coba?” Pikirku tidak ada salahnya dicoba, lagipula sangat memenuhi persyaratan. Rumah tua yang angker dan lama ditinggalkan. Absolutely perfect!
Akhirnya diputuskan sudah, Tama pergi kesana dengan seorang anak. Anak yang tampan dan juga pemberani. Gery namanya. Ha ha ha… Ya, saya ganteng. Tidak peduli itu fakta atau opini, tapi kepercayaanku seperti itu.
“Ger, kita perginya besok lusa aja gimana? Kan pas weekend. Sekalian kan aku ada kelas ngulang besok.” Halah.. Tama sih, dapet nilai B aja ngulang mata kuliah. “Ya udah besok aku nganggur, aku kerjain buat karakter gamenya dulu aja, biar nanti cepet kelarnya. Udah males kelamaan kuliah nih aku hahaha…” Tama menyeruput teh sambil berkata, “Koe sih apa yang ndak males?” Kamipun tertawa bersama selama 5 detik sebelum aku berkata, “Tam, itu gelas teh ku.” Dia terdiam. Akupun terdiam. Keheningan yang berjalan beberapa saat itu terpecah saat makanan yang kami pesan datang. “Sori salah ambil gelas Ger.”
Selesai menyantap hidangan yang sangat lezat, kamipun pulang menuju kontrakan untuk meneruskan skripsi. Saat didepan mobil, Tama tiba – tiba terdiam, cukup lama. Tatapan matanya kosong seperti bak mandi yang lupa diisi airnya. Aku yang semula terhening karena bingung akhirnya bertanya, “Napa Tam? Oy?” Tiba – tiba dia langsung lari terbirit – birit menuju kedalam restoran meninggalkanku sendiri termenung di tempat parkiran.

Sudah kuduga, kunci mobilnya ketinggalan. Biasa banget.